Jejak Keempat : Bendera

August 21st, 2009

Minggu yang lalu Negara Indonesia merayakan kemerdekaan. Sudah 64 tahun, umur yang seharusnya sudah menjadikan penduduknya dewasa dan mandiri. Sebagian orang akan mengatakan dengan kritik pedasnya bahwa kemiskinan dan marjinalitas masih melanda dimana-mana, busung lapar dan kasus malpraktek masih banyak dan kedaulatan seolah masih diinjak-injak terbukti dengan kasus TKI dan David di Singapura. Lalu sebagian lagi yang berada di pemerintahan akan mengatakan bahwa “kita masih bisa untuk berubah menjadi lebih baik”. Lalu ceremonial dan lomba-lomba kemerdekaan seperti makan krupuk dan balap karung akan diselenggarakan di berbagai lokasi.

bendera

Saya juga masih teringat sering mengikuti lomba kemerdekaan. Misalnya lomba memecahkan plastik berisi air dengan mata tertutup, sampai lomba sepakbola laki-laki dengan memakai daster wanita. Weleh-weleh, jika mengingat itu semua, sebetulnya menyenangkan aura kebersamaannya. Jarang-jarang ditemukan di kehidupan nyata setiap harinya.

Dan lingkungan di rumah orang tua saya di Purworejo akan dipenuhi dengan bendera merah putih dalam segala bentuk dan umbul-umbul yang memenuhi sepanjang jalan, baik jalan gang maupun jalan setapak.

Bagi saya, terserah setiap orang akan mengatakan atau berpendapat apa saja. Mau menikmati hasil kemerdekaan ini dengan berlomba, bepesta, atau justru malah semakin gencar mengungkapkan kritik pedasnya karena sebenarnya potensi negara masih belum tergali dengan optimal. Akan dikatakan bahwa ketika jaman semakin maju, negara lain juga semakin maju, negara Indonesia juga semakin maju; lalu sama saja kan sebenarnya dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya.  Sama.

Yang penting setiap orang berpendapat dan mengungkapkannya dengan sebenar-benar pendapatnya. Yang dia rasakan, dan segera diungkapkan dengan perbuatan. Ah kemerdekaan, rindu dengan birokrasi pajak, pengurusan ktp, layanan listrik dan semacamnya yang ramah dan tidak berbelit-belit. Rindu dengan tidak adanya outsourcing karyawan yang dihilangkan. Rindu dengan pengelolaan PKL di jalan-jalan kota yang dirapikan. Rindu dengan ketidakadanya gelandangan dan pengemis di kota. Rindu dengan film dan hiburan Indonesia yang mendidik. Rindu dengan cuaca dan iklim perpolitikan yang tidak banyak gontok-gontokan. Rindu dengan wakil rakyat yang berkompeten, tidak hanya menang pamor. Rindu dengan pemimpin yang selalu bisa berpidato tanpa teks dan berekspresi natural, tidak dibuat-buat. Seolah ada beban awan hitam menggumpal di atas kepala.

Categories: cerita

Tags: Leave a comment

Leave a comment

Feed

http://arifnurrahman.com / Jejak Keempat : Bendera