Jejak Kelima : Puasa
August 28th, 2009
Puasa telah tiba. Sudah menjadi budaya jika di negara saya ketika memasuki ramadhan atau puasa, berbagai kebiasaan, ritual bahkan ada yang menyebut kebudayaannya berbeda.

Saya masih teringat ketika masih kecil, sholat tarawih tidak dijalankan di mushola atau masjid terdekat. Tetapi di rumah tetangga, hehe. Ya, itulah yang dulu terjadi sampai menginjak SMP. Dahulu, memang saya tidak tahu alasan mendasar itu, hanya mengikuti orang tua dan tetangga-tetangga terdekat. Tetapi kini mungkin sudah lebih melek. Ya sudahlah, itu cerita mengenai lain hal; pemahaman, mungkin lain kali akan diceritakan
. Setelah itu, dibangunlah mushola yang lebih dekat dengan rumah; yang kini menjadi masjid. Kegiatan mulai ramai, walaupun semasa remaja, kegiatan semacam remaja masjid belum begitu optimal. Yang masih teringat salah satunya takbir bareng anak-anak kecil lingkungan sekitar masjid dengan menaiki becak tetangga dan sempat diguyur hujan. Wah susah sekali waktu mengatur anak-anak kecil. Huh.
Mercon, door. Itu selalu terdengar ketika saya pulang ke rumah saat ramadhan; di purworejo. Yang jelas bukan hanya mercon kecil-kecil. Kembang api, atau semacamnya lah. Maklum, banyak anak-anak kecil di lingkungan sekitar rumah. Tapi tidak begitu ekstrem kok, hanya mercon dan kembang api kecil-kecilan. Itu juga dengan penuh pengawasan dari orang-orang tua.
Di awal puasa memang euphoria menyambut kebesaran bulan suci sangat terasa. Tapi terasa pula banyak sekali orang yang menjalankan ibadah puasa anak mengatakan “nanti kalau sudah di akhir akan kendor semangatnya, justru terlalu senang menyambut lebaran jadi lupa esensi puasa”. Hem, jadi teringat seorang ustadz yang memberikan ceramah taraweh tahun lalu di masjid Uswatun Khasanah jalan kaliurang jogja. “jangan terlalu semangat di awal ramadhan. Maksudnya bukan meremehkan, tetapi untuk mengubah paradigma, bahwa di akhir ramadhan harus lebih semangat”.
Categories: cerita




