Jejak Kesepuluh : Silaturahmi
September 29th, 2009
Minggu-minggu selepas hari lebaran tanggal satu, akan tetap diramaikan dengan aktivitas yang dinamakan silaturahmi. Seorang ustadz pernah bilang kepada saya bahwa sebenarnya istilah itu kurang tepat secara istilah bahasa. Yang tepat adalah “sila-ukhuwah”. Tetapi mungkin karena sudah terlanjur mengakar di masayarakat dan toh juga tetap bermakna baik, sehingga tidak begitu menjadi permasalahan. Saya juga teringat kata pak kyai Zaenuddin MZ di sebuah stasiun TV swasta, pas berceramah di kesempatan ramadhan lalu. Saya ambil saripatinya saja yah, takut kebanyakan dan belum pantas berkata bijak, hehehe. “jika bertemu langsung dikhawatirkan belum bisa menjaga hati karena ada sebuah masalah antara orang yang satu dengan yang lain, maka lewat teknologi pun tidak apa-apa”. Begitu kurang lebih bunyinya. Sebetulnya itu mangandung sebuah makna. Jadi bagi siapa saja dan dalam kondisi apapun hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, manfaatkanlah momen lebaran untuk berbagi maaf. ^_^. Heemm, dengan kata lain yang lebih filosofis, orang dipersilakan memilih untuk menjadi “malaikat” atau menjadi sekadar manusia biasa.
Mumpung masih dalam suasana syawalan juga, saya mau berbagi wejangan mengenai syawalan. Ini juga disampaikan oleh seorang ulama terkenal di tv. Kurang lebih menyindir mengenai silaturahmi dan pameran. Lho kok? Iya, terkadang silaturahmi jadi ajang pamer. Bisa pamer jabatan, harta dan kadang hal-hal yang sepele. Seorang sahabat pernah bercerita bahwa ia kadang malas dating untuk acara silaturahmi lebaran. Soalnya dialognya kurang cair. Sering membuat kelompok-kelompok tertentu. Tidak membahas perbincangan yang ringan, yang bisa dibicarakan semua dengan lugas. Iya sih, terkadang niat untuk kumpul silaturahmi lebaran sama teman-teman lama perlu dicek dan diperiksa kembali. So, mari bersilaturahmi dengan niatan untuk sebuah kebaikan bersama. ^_^
Categories: cerita




