Jejak Keempat Belas : Birokrasi

October 25th, 2009

birokrasiDi rumah ada kamus besar bahasa indonesia, buku tebal berwarna hijau. Tapi untuk kepraktisan, saya akhirnya hanya mencari definisi kata ”birokrasi” dari sebuah e-book kamus besar bahasa indonesia yang saya dapat dari dunia maya. Dunia maya alias internet. Dan sebenarnya bisa juga kamus besar bahasa indonesia diakses secara online di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php. Jadi ini yang saya temukan. Birokrasi adalah : 1) sistem pemerintahan yg dijalankan oleh pegawai bayaran yg tidak dipilih oleh rakyat; 2) cara pemerintahan yg sangat dikuasai oleh pegawai negeri; 3) cara bekerja atau susunan pekerjaan yg serba lamban serta menurut aturan (adat dsb) yg banyak liku-likunya dsb. Heem, definisi yang menarik :D . Kalau bisa disederhanakan ya menurut saya birokrasi adalah prosedur yang bertele-tele untuk mengurus berbagai hal berkaitan dengan struktutral organisasi. Misalnya ngurus anu itu di kampus, perijinan di badan pemerintahan, surat ijin penelitian, dan banyak lagi.

Kali ini memang sedikit mengupas curahan mengenai pengalaman tentang pengurusan birokrasi. Mungkin kalau jujur diakui dan tanpa penelitian lebih detail, bisa diakui dan dikatakan kalau secara umum siapa saja akan bilang pengurusan birokrasi di pemerintahan itu ribet, susah, bertele-tele dan lain sebagainyalah. Ya nggak? ^_^. Mungkin itu pula yang mendasari adanya embel-embel tambahan sebuah nama menteri baru. Meneg PAN dan reformasi birokrasi, ya begitulah namanya sekarang. Dijabat oleh EE Mengindaan. Kata media umur beliau sekarang sudah lumayan tua sebenarnya, 66 tahun. Dan baru baca koran tadi pagi, ternyata beliau mengusulkan kenaikan gaji menteri. Weleh-weleh, langsung saya dibuat kecewa! Ya semoga benar-benar bisa mengubah paradigma birokrasi yang padahal banyak orang bilang kalau anak muda bisa lebih enerjik, tidak suka membuat ribet susuatu.

Nah pengalaman yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman pengurusan birokrasi oleh seorang rekan di sebuah badan pemerintahan. Ceritanya begini, sewaktu dia datang hanya untuk memberikan surat dan bukan meminta dana, seorang bapak berumur paruh baya langsung berseloroh ”dananya sudah habis mbak, ini untuk acara seminar kan! Sudah habis (dengan muka masam kecut), tidak ada dana, yang masih ada itu untuk acara pecinta alam dan olahraga”. Walah, belum mengutarakan maksud sebenarnya, pegawai dinas yang mengurusi bagian perijinan itu sudah apriori. Sepertinya bapak pegawai itu perlu dikuliahi dan diberi training mengenai apa itu manajemen, birokrasi dan hati nurani, hehehe. Kasian sekali sebenarnya rekan saya itu. Kalau saya yang langsung yang mengurusi mungkin sudah jenuh dan adu debat, hehe, untung dia sabar. Ya begitulah salah satunya. Birokrasi kadang menjadi hambatan tersendiri. Ya memang sih, itu adalah aturan yang membuat kedisiplinan. Tapi kenyataan yang ada, memang peraturan itu perlu ditinjau ulang. Dalam banyak hal lah, baik di pemerintahan maupun swasta. Ada juga sih pengalaman pribadi saya yang lain, waktu di kampus Solo dulu. Banyaklah. Kalau diceritakan di sini nanti terlalu membuat bosan :D . Oiya, dan sepertinya prosedur birokrasi di negri ini ternyata tidak hanya di pemerintahan yang ribet. Di pihak swasta ada juga yang masih dipandang ribet, rumit dan sebagainyalah. Salah staunya dari pengalaman rekan saya yang kuliah di universitas swasta. Kali ini waktu akan mengurusi surat keputusan pembimbing penelitian. Nah ini kasusnya juga unik. Karena ternyata si pemimpin jurusan agak suka membuat ulah aneh dengan mengubah peraturan sekehendak hatinya. Weleh-weleh, ngurus birokrasi surat aja sampai berbulan-bulan. Padahal yang lain satu minggu sudah selesai. Hemm, yah begitulah sejauh ini pandangan saya mengenai birokrasi. Semoga istilah tersebut malahan bukan menjadi demo-crazy! Dan semoga secuil cerita ini bisa mengingatkan kita bersama. See you…..


Baca Juga Ya :) :

Categories: cerita

Tags: , , , , Leave a comment

Leave a comment

Anti-Spam Quiz:

Feed

http://arifnurrahman.com / Jejak Keempat Belas : Birokrasi