Jejak Ketujuhbelas : Ilmu
November 15th, 2009
Alhamdulillah kemarin sabtu bisa bersilaturahmi dengan dosen saya di Solo, lebih tepatnya beliau yang mantan pembimbing dan guru dalam berbagai hal berkesempatan mengunjungi jogja untuk menghadiri seminar prosiding. Dan sempat berbagi informasi mengenai banyak hal, dapat gratisan masuk seminar pula hehe. Terimakasih Pak!
Ohiya, postingan kali ini akan sedikit menyinggung mengenai ilmu. Ya masih ada kaitannya dengan cerita di paragraf satu di ataslah
. Saya sebenarnya bingung memulai menulis darimana. Dan sempat ragu juga untuk share di blog. Karena mungkin tidak semua orang yang membaca akan sepakat dengan hal itu. Lebih tepatnya mengenai ”dikotomi ilmu”. Mengenai ”pemisahan ilmu agama dan ilmu umum” semenjak penjajahan dahulu. Dan mungkin kini itu adalah bagian dari konspirasi barat untuk mengangkat tinggi kapitalis dan membuat dunia ketiga yang baru (T_T). Menyadari juga meskinpun masih banyak (banyak sekali tak terhingga) sifat fasiq dan lalai yang ada, tapi tak ada salahnya saya sedikti bercerita dan semoga menjadi pengingat untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Kalau ada kata-kata yang kurang berkenan dan menyinggung, saya minta maaf sebelumnya. Dan toh juga untuk melatih kemampuan menulis, hehe.
Dahulu ketika jaman kerajaan dan penjajah mulai merangsek masuk ke tanah air, falsafah keilmuan mulai dikikis untuk dipisahkan. Kehidupan pesantren mulai dijauhkan dari ilmu umum. Ilmu umum itu maksudnya adalah ilmu selain agama, seperti ilmu alam dan sosial. Ilmu umum hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan orang kaya. Sehingga rakyat jelata tidak diperkenankan. Nah, menurut saya itu adalah salah satu milestone ”dikotomi ilmu”. Karena kalau disatukan keduanya waktu itu, para penjajah akan kewalahan sebab kekuatan penyatuan ilmu itu akan mengalahkan segala bentuk kemungkaran. Meskipun begitu, akhirnya para pejuang yang sadar akan skenario itu mulai melakukan perjuangan untuk mengusir. Dan berhasil terbukti dengan kemerdekaan. Namun, skenario ”dikotomi ilmu” itu nampaknya masih ada ”sisanya” sampai sekarang. Seperti masih berkembang pesatnya paradigma kalau pendidikan di pesantren ”hanya bermanfaat” dengan mendapat ilmu agama. Sedangkan ilmu di bangku pendidikan pada umumnya belum sepenuhnya berhasil ”meruntuhkan dikotomi ilmu” itu.
Jadi membingungkankah tulisan ini? Heheh, ya sudahlah tunggu postingan yang ringan dan renyah berikutnya saja
.
Categories: cerita




