Sepeda dan Layang-layang
February 2nd, 2010
Hari telah sore. Layaknya anak-anak kecil lainnya, saya suka bersepeda. Atau bermain menggunakan sepeda. Lalu saya berinisiatif bersepeda dengan adik saya yang selisih umurnya hanya 3 tahun. Adik saya laki-laki. Waktu itu saya duduk di bangku sekolah dasar kelas kelas 3. boncengan atau bersepeda berdua. Saya di depan, adik saya duduk di palang tengah sepeda. Sepeda yang saya pakai bukan sepeda untuk orang dewasa. Tapi sepeda anak-anak.
Rumah saya memang tidak begitu jauh dengan sawah. Hanya berjarak seratus meter saja. Bersepeda ria di sore hari sungguh menyenangkan. Waktu itu sedang musim bermain layang-layang. Anak-anak yang lain ada yang bermain layang-layang. Bahkan juga orang-orang dewasa. Dan tibalah kami di jalan di tengah sawah, yang juga digunakan sebagai arena bermain layang-layang. Suasana cukup ramai.
Kami meluncur bersepeda dengan kecepatan rata-rata. Posisi kami saat itu persis di belakang seseorang yang sedang bermain layang-layang. Arah sepeda ke barat. Sedangkan orang yang bermain layang-layang menghadap ke utara. Karena saking asyiknya bersepeda, sehingga kurang memperhatikan tiba-tiba orang yang bermain layang-layang tersebut bergerak mundur. Atau orang tersebut yang terlalu asyik bermain layang-layang sehingga tidak memperhatikan kami. Sehingga orang tersebut menyenggol sepeda kami. Byurrrr!!!!! Kami berdua terperosok dan tercebur ke sawah. Lebih tepatnya tercebur ke kalen. Sungai kecil sebagai aliran air di pinggir sawah. Karena kebetulan jalan itu sempit dan ban sepeda kami memang jaraknya sangat dekat dengan pematang sawah.
Wah sungguh sial nasib kami. He he he. Otomatis kami menjadi pusat perhatian. Tapi waktu itu saya tidak merasakan seperti menjadi bahan olok-olokan. Maklum masih anak-anak. Kami berdiri dari pematang sawah dengan pakaian yang sudah kotor bercampur lumpur. Dan wajah cukup lusuh glepotan lumpur.
Saya keluar dari pematang sawah dengan mengangkat sepeda saya. Dibantu orang-orang yang bermain layang-layang. Mereka dengan cengar-cengir membantu ikut membersihkan dan memeriksa jikalau sepeda saya rusak. Atau mungkin ada yang terluka. ”Ora po-po tho dek?”, tanya seseorang. Saya hanya tersenyum. ”hua-hua-hua….”, rupanya adik saya tidak bisa menahan tangisannya.
Kami pulang berjalan kaki. Saya menuntun sepeda. Dan adek saya masih belum berhenti dari tangisannya. Walaupun semakin lirih. Tapi waktu itu, saya sama sekali tak merasa menyesal, bersedih ataupun takut naik sepeda. Serasa pengalaman biasa. Tapi bertahun-tahun kemudian dan sampai sekarang, saya baru merasakan kelucuan dan keceriaan pengalaman-pengalaman semasa kecil seperti itu. Terjatuh dari sepeda dan tercebur ke sawah karena kunduran wong dolanan layangan.
NB : kata dalam bahasa jawa, kunduran, sulit diterjemahkan secara lugas dalam satu kata di bahasa indonesia. Terjemahannya kurang lebih tersirat dalam cerita di atas. Wong dolanan layangan, artinya orang yang sedang bermain layang-layang.
Tulisan ini di-posting sebagai bahan partisipasi sebuah kontes jalinan silaturahmi yang diadakan oleh Om Batavsuqu di kemeriahan Hamberqu.
Categories: cerita





[...] Sepeda dan Layang-layang [...]
Atas permintaan Mas Isro, saya ijin menjemput artikelnya Mas. Trims sekali.
Salam hangat selalu
[Reply]
nurrahman18 Reply:
February 3rd, 2010 at 7:03 pm
@yayat38, oke kang Yayat..nuhun Cak
[Reply]
suatu pengalaman yang tidak terlupakan tentunya
aku pernah dulu sama adikku, dia yg gonceng aku dibelakang tapi menghadap kearah yg berlawanan, pas itu jln menurun akupun panik hingga akhirnya jatuh sampe pingsan he2 efeknya sampe skrg aku trauma jika lewat jalanan yg menurun
tq dah berbagi
[Reply]
eehh.. ikutan kompetisi toohh.. gud luck yaahh ^^
oh iya, sepeda dan layangan.. hmm.. ga pernah tuh,, hehehe…
[Reply]
hahahaha….nice story yah mas….hiks saya gak punya pengalaman kecebur sawah xixixi
[Reply]
saya org jawa tapi ndak tau artinya kunduran sec lugas xixixixi
[Reply]
bener2 pengalaman yang mengasyikan sob..
[Reply]
kenangan masa lalu selalu jadi yang terindah ^^
[Reply]
saya ketawa dulu ya
hahahahahah,,,,
untung kecebur sawah bro.. coba kalo jurang hehehe…
tp masa kecil adalah masa yg penuh warna dan kecerian ya hehe…
[Reply]
Wah.. hoby saya waktu kecil tuh.. maen sepeda dan maen layangan.. sayang ga bisa disatukan..
(trims mas kunjungannya, kunjungan balik nih..)
[Reply]
Wah, rumap panjenengan kayak rumah saya yg di Jombang mas. Rumah mewah alias mepet sawah. Tapi asyik lho, kalau malam minggu saya pulang kampung nengok emak.
Semoga sukses mas.
Salam hangat dari Surabaya.
[Reply]
bener-bener sulit dilupakan!
[Reply]
Pengalaman manis di masa kecil memang selalu indah untuk dikenang. Salam jepret!
[Reply]
bersepeda memang menyenangkan selain itu juga menyehatkan..,
[Reply]
[...] 19. Mas Arif [...]
[...] 19. Mas Arif [...]
[...] Didie 14. Kang Casrudi 15. Mas HP Nugroho 16. Kang Boed 17. Mas Rachmat Widodo 18. Pakde Cholik 19. Mas Arif 20. Kang Citro Hadi 21. Kang Badruz 22. Kaka Akin 23. Mas Edy Kurniawanto 24. Mas Unna 25. Mbak [...]