Belajar Ekonometri dari Belanda

Akhir tahun 2008. Ketika itu saya masih mengambil mata kuliah manajemen keuangan. Dosen pengajar adalah seorang profesor dari fakultas ekonomi. Saat itu sedang membahas mengenai ekonomi kuantitatif. Beliau bercerita terlebih dahulu sebelum mempraktekan teori dengan komputer yang ada di depan para mahasiswa. ”Sebenarnya ada paradigma yang kurang tepat tentang pendidikan kita. Seharusnya belajar ekonomi itu harus kuat matematikanya. Tapi kenyataanya justru ilmu ekonomi termasuk ke dalam penjurusan ips di sma. Bukan ipa yang ada matematikanya”, kata beliau.

Beberapa patah kata itu masih saya ingat sampai sekarang. Mungkin juga karena saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Saya memang tidak mengenyam pendidikan kuliah di fakultas ekonomi. Tapi beberapa mata kuliah yang pernah saya ambil berhubungan dengan ilmu ekonomi. Mulai dari pengantar ilmu ekonomi, ekonomi teknik, riset operasi, bisnis plan, sampai beberapa ilmu manajemen seperti manajemen operasi, pemasaran, keuangan dan strategi. Dan saya juga hanya masih ingat kalau ilmu ekonomi memang terdiri dari beberapa aliran. Klasik dan modern. Ekonomi kerakyatan dan liberal atau kapital, sering muncul karena kasus century. Lalu ada juga ekonomi kualitatif dan kuantitatif. Dan yang diutarakan beliau tadi, tentu saja menyinggung tentang betapa ilmu ekonomi kuantitatif adalah penting untuk dipelajari kini.

Saya jadi teringat tentang ekonometri, ilmu yang membahas masalah pengukuran hubungan ekonomi. Mencakup teori ekonomi, matematika, dan statistika dalam satu kesatuan sistem yang bulat, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri dan berlainan dengan ilmu ekonomi; matematika; maupun statistika. Ekonometri digunakan sebagai alat analisis ekonomi yang bertujuan untuk menguji kebenaran teorama-teorama teori ekonomi yang berupa hubungan antarvariabel ekonomi dengan data empirik. Manfaatnya antara lain dalam hal peralaman, pengambilan keputusan secara kuantitatif dan tentu saja pembuatan model matematis ekonomi.

Buku yang pernah saya baca mengenai ekonometri adalah karangan Nachrowi Djalal N, seorang guru besar UI. Berjudul ”Penggunaan Teknik Ekonometri”. Saya pinjam dari perpustakaan pusat. Karena penasaran mengenai asal usul ilmu dan sejarahnya, maka saya pun berinisiatif mencari informasi tersebut melalui dunia maya. Ya, internet memang masih menjadi andalan saya pertama untuk mencari istilah-istilah asing, informasi pendidikan dan beasiswa baik dalam maupun luar negri. Ternyata, pada awal tahun 1950-an ekonometri telah dikembangkan seorang ilmuwan Belanda bernama Jan Tinbergen (1903-1994). Tinbergen adalah alumni Leiden University jurusan fisika dan matematika. Gelar PhD diperoleh di Erasmus University Rotterdam dengan disertasi berjudul Minimisation problems in Physics and Economics. Kemudian memperoleh gelar profesor pada kampus yang sama, dan bekerja di kampus tersebut sampai tahun 1945. Pada tahun 1956, Tinbergen mendirikan institut ekonomi yang merupakan gabungan atau hasil join dari University of Amsterdam, the Vrije Universiteit and the Erasmus University (Tinbergen Institute). Tahun 1969 Tinbergen memperoleh nobel ekonomi bersama ilmuwan norwegia, Ragnar Frisch, atas jasanya mengembangkan model matematika dengan ekonometri. Dan nobel tersebut adalah nobel pertama di dunia.  Tak berlebihan jika saya ingin menyebut Tinbergen sebagai bapak ekonometri.

Belanda memang maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti halnya beberapa negara eropa lain. Dan keilmuwan ekonometri rupanya juga diteruskan oleh ilmuwan Belanda lain seiring berjalannya waktu. Walaupun ahli-ahli ekonomi atau pemenang nobel ekonomi dari benua amerika juga tak kalah bersaing dalam pengembangan ilmu ekonometri. Penerus Tinbergen di Tinbergen Institute, seorang ilmuwan Belanda lagi bernama Henri Theil (1924-2000). Lulusan University of Amsterdam. Penemuannya yang terkenal adalah 2-stage least squares dan theil index. Satu lagi ilmuwan dalam bidang ekonometri berkebangsaan Belanda, Marno Verbeek (1965). Adalah seorang profesor di Rotterdam School of Management and the Rotterdam School of Economics at the Erasmus University Rotterdam. Pengarang buku Guide to Modern Econometrics (3rd ed, 2008). Sedangkan ilmuwan asal Belanda dalam bidang ekonomi (ekonom) lainnya adalah Tjalling Charles Koopmans. Koopmans lahir di Belanda, tapi pada tahun1945 berpindah kebangsaan Amerika Serikat. Pernah meraih nobel ekonomi pada tahun 1975.

Lalu bagaimana di tanah air? Apakah gaung pengembangan ekonometri sebegitu besar seperti di Belanda? Sejauh ini, bersumberkan internet dan buku, beberapa nama yang termasuk akademisi di bidang ekonometri adalah Prof. Insukindro dari UGM, Dr. Ari Kuncoro dan Prof. Nachrowi Djalal N. dari UI. Memang belum banyak. Walaupun saat ini ekonometri telah berkembang cukup pesat jika dilihat dari jurnal-jurnal ilmiah seperti seperti Econometrica, Journal of Econometrics, Journal of Applied Econometrics, dan Journal of the Operational Research. Di samping itu penggunaannya sebetulnya juga sangat luas. Tidak hanya mengenai makroekonomi, tapi mikroekonomi serta bidang lain seperti marketing. Beberapa contohnya adalah dengan ekonometri dapat dilakukan analisis empiris tentang perilaku ekonomi individu maupun rumah tangga, seperti keputusan-keputusan tentang masalah konsumsi, pekerjaan, serta migrasi.

Nah, jadi saya pikir masih banyak peluang dalam pengembangan dan pemanfaatan ekonometri. Dan jika mau belajar dari ilmuwan-ilmuwan Belanda di atas, inovasi dan kerja keras adalah hal utama. Terlihat begitu banyaknya karya ilmiah yang dihasilkan oleh mereka. Peran para akademisi di kampus sebagai pendidik sekaligus peneliti sangat baik. Layak ditiru di tanah air, dan bukan sekadar meniru apa adanya yang malah menjadi kasus plagiat. Saya kembali teringat kata salah seorang guru besar UGM Prof. Mubyarto (alm), yang kurang lebih mengrikitisi peran akademisi kampus sebagai peneliti masih minim. Kurang lebih beliau berkata seperti ini, ”Perlu dibuat terobosan atau inovasi agar peran seorang akademisi kampus sebagai peneliti optimal. Mungkin dengan cara separo gajinya dibayarkan untuk tugas mengajar dan separo gaji yang lain hanya dibayarkan apabila ia benar-benar melakukan penelitian”. :D

Pola-pola berpikir inovasi seperti membuat terobosan ilmu yang spesialisasi juga patut ditiru. Tinbergen, berbekal ilmu matematika, mau mendalami dan menerapkan pola berpikir matematis dalam bidang ekonomi sehingga menjadi model-model matematis yang bermanfaat.

Ekonometri, mungkin dalam bahasa mudahnya menurut saya adalah bagaimana membuat penilaian kualitatif dan subjektif sebuah masalah menjadi ukuran kuantitatif yang lebih gampang dipahami dan disepakati orang. Tidak ambigu. Dan barangkali dengan membuat analisis makroekonometri, perdebatan mengenai apakah kasus bank century dapat menimbulkan dampak sistemik terhadap perbankan Indonesia atau tidak, dapat terjawab dengan lebih baik. Ah, untuk pendapat yang terakhir di atas, barangkali saya hanya bermimpi! :). Karena saya bukan ahli ekonometri.

***

Bisa tertulis berkat bacaan-bacaan di bawah ini, beserta seluruh link di dalamnya: tentang Ekonometri, tentang Jan Tinbergen, tentang Henri Theil, dan tentang Marno Verbeek. Gambarnya diperoleh dari : Jan Tinbergen, Henri Theil, Marno Verbeek dan Tinbergen Institute. Dan berikut link video di youtube tentang Jan Tinbergen.





Posting Yang Berkaitan :

68 thoughts on “Belajar Ekonometri dari Belanda”

  1. Ikut kompetisi apa? Hebat euy bisa ikutan kompetisi kek gini, semoga menang ya

    [Reply]

    arif Reply:

    @yangputri, terimakasih….kompetiblog2010.studidibelanda.com, kompetisi blog berhadiah jalan2 ke belanda, ayo yangputri seger aikutan mumpung belum terlambat :D

    [Reply]

  2. Pasti kalau nulis artikel semacam ini harus banyak lihat referensi di Google. Saya aja bingung dengan kata2 ilmiah yang belum saya mengerti :P

    [Reply]

    arif Reply:

    @Ifan Jayadi, jadi silakan klik link-link terkait biar sama-sama mengerti :D

    [Reply]

  3. Waduh.. jalan-jalan ke belanda..
    Ngimpi aja blm pnh ke belanda.. :))
    Hehehehe..
    Semoga sukses mas sama kompetisinya..
    Butuh dukungan?? contact saya aja..
    hahha..

    [Reply]

    arif Reply:

    @Surya Triwijaya, paling enggak trimakasih atas dukungan komennya bro :D

    [Reply]

  4. jiaaan hebat tenan, padahal ini baru tulisan berkelas opini.
    jujur, walaupun saya tidak begitu memahami (karena saya lulusan pendidikan bahasa Indonesia dan daerah) tapi saya menangkap 1 simpulan bahwa ilmu ekonometri bukan ilmu biasa (sepele).

    dan pernyataan Prof. Mubyarto (alm), saya suka itu dan saya sangat setuju. entah saya termasuk akademisi kampus atau tidak, tapi pernyataan itu sangat benar. gampangnya, yg namanya ilmu itu harus dipraktikkan. dan salah satu langkah praktik itu adalah dengan melakukan penelitian.

    top kang tulisanmu…

    [Reply]

  5. artikelnya panjang, detail dan mendalam. seperti seorang profesor juga nulisnya.. pasti menurun dari profesor itu ya

    selamat berkompetisi

    [Reply]

    arif Reply:

    @jumialely, profesornya baik hati seeh, hehehe

    [Reply]

  6. Wah ulasannya lengkap, saya juga belaajr ekonomi di kampus walau saya gak ambil jurusan itu. Memang ada bebrapa hitungan yang berhubungan matematika. jadi walaupun ekonomi masuk kelas IPS, seharusnya anak IPS juga harus pinter matematika.
    Selamat berlomba..

    [Reply]

    arif Reply:

    @setitikharapan, thx bro…ekonomi dan matematika sebenarnya ga bisa dipisahkan, dua variabel yg saling melengkapi :)

    [Reply]

  7. nice article bro,
    menariknya, ilmu ekonomi adalah ilmu tentang kehidupan manusia sehari-hari. Tapi kalo kita belajar ekonomi, ternyata tidak semua bisa dan menyukainya–apalagi dengan ekonometrik lanjut, OR etc.

    [Reply]

    arif Reply:

    @iip albanjary, iya, karena memang sebetulnya ekonomi luas, khusus ekonometri lebih mengarah ke kuantitatifnya :)

    [Reply]

  8. Setuju mas, ekonomi itu seharusnya kuat dihitungan. Kalo ngga bakalan keteteran ama regressi, ngitung heteroskedastisitas, @#@$^@*(%#@!, dan bahasa pluto lainnya. Hehe –>korban dari ips

    [Reply]

    arif Reply:

    @Donny, wew, klo gitu mari belajar inovasi itu dari negeri holland :D

    [Reply]

  9. hadoh mas… terus terang ane mah kagak mudeng :D
    yang saya mudeng itu, sya kalo dari smp paling gak demen dah ama ekonomi, soalnya pake acara itung itungan pajak ama si LILO plus FIFO,,, mungkin bener juga tuh kata dosennya mas,, ekonomi tuh salah paradigma :D

    Tapi, saya lebih bisa nangkep matematika daripada ekonomi :D

    [Reply]

  10. waw, ekonomi ya,, mantap tuhh,,
    perekonomian memang penunjang segala hal..

    [Reply]

    arif Reply:

    @cucu, emang betul, sayangnya ekonomi di Ina lum berdiri kokoh, perlu “mencuri” inovasi2 di atas :D

    [Reply]

  11. wih, ke Belanda.
    negeri kincir angin.
    buku2 peninggalan waktu menjajah Indo apa ada museumnya ya disana??

    [Reply]

    arif Reply:

    @Triunt, wah ane lum pernah ke belanda, jd lum bisa jawab :D

    [Reply]

  12. semoga menang yah kak arif
    di tunggu makan makannya

    maaf oby gakk bisa banyak koment
    solany ilmu ekonomi oby sangat minim

    salam kenal
    dari blogger abnoraml

    [Reply]

    arif Reply:

    @oby, makasih :D

    [Reply]

  13. pak arief…..masih ingat diriku temen satu almamater satu tingkat diatasmu.

    aku lagi jalan2 nyari artikel ekonometri nemu tulisanmu di page 1 google keyword “ekonometri’ manteb cah. enak dibaca tulisanmu,moga2 bisa sharing lagi nanti ya. hebat kw saiki wis diajari profesor..:D disik ng kampuse dewe ra rau yaa

    [Reply]

    arif Reply:

    @Aries Kuswidianto, wah kang aris, keren :D

    [Reply]

  14. yah,ekonomi kan emang dari sananya ilmu kekhususan ips = = masa harus dikasih pula ke anak ipa sih

    kalo gitu apa spesialnya jurusan ips dong

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anti-Spam Quiz: