Kamus Bahasa Jawa

HanacarakaSudah banyak yang bilang begini, wong jawa tapi ilang jawane. Maksudnya begini, bukan bermaksud SARA, tapi ungkapan itu kurang lebih menggambarkan bahwa betapa banyaknya orang Jawa yang kini tidak lagi cukup mengerti dan mau untuk mengerti kebudayaan Jawa. Dalam artian untuk sekadar nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa. Jawa memang beragam, sesuai dengan dialek dan kebudayaan daerah setempat. Jawa yang ngapak di daerah Banyumasan tentu punya ciri khas yang berbeda dengan masyarakat jawa Suroboyonan, dan seterusnya. Tapi semuanya punya satu ruh yang sama. Salah satunya dalam hal Aksara atau Huruf Jawa. Setidaknya itulah minimal opini saya. Jadi, sudah banyak yang enggan melestarikan Aksara Jawa. Dimasukkan dalam unsur pendidikan pun masih kurang dikembangkan. Seingat saya, ketika SD diajari tari jawa yang bernama Ndolalak khas Kabupaten Purworejo, kemudian SMA ada pelajaran Karawitan dan Nembang, tapi tentu sekarang dah banyak lupa. Maksudnya, Aksara Jawa kadang diangap kuno alias modern. Bukannya bermaksud menolak arus globalisasi, tapi alangkah sedihnya kalau suatu saat Aksara Jawa tiba-tiba jarang ditemui alias sudah tidak banyak generasi penerus yang memahaminya. Jangan sampai deh. Jadi, sebagai asli jawa dan saya juga mengajak teman-teman pembaca setia untuk mengenal lagi dan melestarikan Aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka. Yang paling mudah ya belajar dengan font khusus ha-na-ca-ra-ka. Tapi untuk yang lebih baik, tentu sudah banyak yang tau tentang software Pallawa. Buatan Purwokerto, dapat meng-alihaksara-kan pengetikan Aksara Latin menjadi Aksara Jawa sesuai dengan aturan yang baku dan benar. Liat selengkapnya di sini.

Lalu, tentang lain hal. Yakni Bahasa Jawa. Bahasa Ibu masyarakat Jawa ini kalau menurut saya, sampai sekarang memang menjadi bahasa Ibu paling merakyat dan barangkali paling banyak untuk keperluan sehari-hari. Tapi lebih banyak dipakai bahasa ngoko, jadi terkadang untuk krama inggil masih sedikit. Saya saja mesti harus mengakui juga belum begitu fasih ber-krama inggil, jadi malu. Jadi, disarankan satu hal buat para Blogger atau yang doyan online; barangkali kita bisa turut melestarikan bahasa jawa dengan mempelajari secara online. Seperti mengunjungi web Ki-demang. Atau membaca kisah Pewayangan di Wayangprabu, sampai menyempatkan nonton wayang di televisi lokal, dan jika menemukan beberapa istilah yang kurang dipahami tapi malu untuk bertanya pada sesepuh, maka bisa mengunjungi web Kamus Bahasa Jawa.

Sudah banyak tersedia, seperti di Kamus UGM, Kamus Jowo, dan Bausastra.  Nah, kalau mau melestarikan lagi dengan baik secara online, tirulah rekan Blogger Mas Mahatma yang pernah mengisi konten blog dengan bahasa Jawa, tapi sekarang sepertinya sudah pula berbahasa indonesia. Atau Blogger senior asal kota Solo, Kang BlontankPoer yang masih rajin post basa jawa :).





Posting Yang Berkaitan :

20 thoughts on “Kamus Bahasa Jawa”

  1. Salam damai n sejahtera Nurrahman18, posting yang informative. Kl blh ksh saran, akan lebih baik jika postingnya direkomendasikan di berbagai social directory, feedburner, dsb, agar bs bermanfaat untuk pembaca yang lebih luas, salam kenal, feel good, sukses selalu.

    [Reply]

    arif Reply:

    @Lowongan Kerja Cpns, makasih bro sarannya, saya memang jarang ke social directory, karena alasan cukup ribet dan banyak social directory yg isinya ya tau sendiri lah kyk apa. Jd saya msh lbh mempercayakan mesin pencari bekerja utk trafik blog ini dgn sendirinya :D

    [Reply]

  2. wah keren… keren banget
    Dulu saya bisa membaca aksara jawa sekaligus menuliskannya. Sekarang sudah lupa karena sudah lama tidak pegang aksara itu. Ternyata sudah ada tutorialnya onlen :D

    [Reply]

    arif Reply:

    @mandor tempe, saya juga kangen nulis jawa,korespondensi pake aksara jawa :D

    [Reply]

  3. akeh wong jowo ra biso boso jowo.. payah tenan..

    [Reply]

    arif Reply:

    @Alam, terkdg ada jg yg dididik oleh keluarga semenjak dini agar lbh “berbahasa indonesia” dan lalu susah berbahasa jawa karena terlanjur menganggap kuno dsb :(

    [Reply]

  4. suami saya orang jawa
    tetapi sampai sekarang saya tidak bisa berbahasa jawa :(

    [Reply]

    arif Reply:

    @lyna r, wew, barangkali perlu latihan mbak biar suami ada temennya ngobrol jawa hehehe :D

    [Reply]

  5. wah ada kamus bahasa jawa, mungkin ini bentuk dari untuk kembali melestarikan warisan nenek moyang yg seolah sudah tidak di minati para anak muda kita yg lebih tertarik untuk belajar bahasa asing…

    [Reply]

  6. wah ngeri euy softwarenya. lengkap dengan aksaranya. pengen deh bikin kamus minang yang kaya gitu juga :)

    [Reply]

    arif Reply:

    @fanz, sok atuh, keburu idenya keduluan org lain :D

    [Reply]

  7. wah.. mas ak bisa mnta tolong bantu dicarikan lirik lagu “saya cari” kalo tidak salah itu lagu jawa tari dolalak g.. mksh ya

    [Reply]

    arif Reply:

    @indrisetyaningrum, hmm,sementara ini saya belum tau. nanti klo ada info dikbri lagi deh :)

    [Reply]

  8. eh, makasih disebut-sebut…tapi maaf, jangan kecewa kalau ternyata bahasa Jawaku pun amburadul….hehehehe….. Ki Demang itu lho, bgauss…. :)

    [Reply]

    arif Reply:

    @blontankpoer, nyatanya bnyk yg ga kecewa setelah mempir ke blog sampean pakdhe :D

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anti-Spam Quiz: