Kebebasan Berekspresi Internet

June 18th, 2011

Kebebasan Berekspresi InternetRasanya tak ada sedikit pun kerugian untuk nonton Film Dokumenter Linimas(s)a dan membaca Ebook Pedoman Berekspresi Online persembahan dari Kalamkata. Silakan segera nonton dan baca sampai tuntas, karena banyak hal yang bisa dipelajari disana.  Ebook itu mengingatkan saya pada award Internetsehat Mingguan pada Agustus 2009 lalu, untuk Blog WordPress yang saya kelola sebagai kategori Gado-gado Blog. Gambar di bawah ini adalah buku Internetsehat sebagai salah satu tanda apresiasi dari award tersebut. Selain ada tanda apresiasi lain yang berupa sebuah kaos.

Kebebasan Berekspresi Internet

Oke, sebetulnya kali ini saya bukan hendak beropini mengenai perihal award Internetsehat Gado-gado Blog tersebut. Itu sudah 2 tahun lalu, meskipun saya juga ingin mendapat award macam itu lagi dari Internetsehat. Dan ini bukan pula mengenai makanan Gado-gado. Ini mengenai opini dalam Kebebasan Berekspresi Internet. Beberapa poin utama yang akan disampaikan adalah mengenai manfaat kebebasan berekspresi via internet, bagaimana kondisi kebebasan berekspresi internet di Indonesia dan bagaimana seharusnya. Maaf kalau terlalu banyak dan cukup membosankan. Tapi semoga masih ada yang setia membaca sampai usai dan berinteraksi memberikan respon komentar untuk saling berbagi.

Berbicara mengenai kebebasan berekspresi internet di Indonesia, ada banyak hal yang pantas didiskusikan dan dikaji. Barangkali juga patut dijadikan penelitian untuk Tesis atau Disertasi. Mungkin sudah ada yang melakukan dengan berbagai sudut pandang keilmuan. Akan tetapi bisa jadi saya yang kurang update mengetahui hal itu, atau dikarenakan publikasi artikel ilmiah hasil penelitian / Riset Kampus di Indonesia secara umum masih kurang. Kebebasan berekspresi via Internet itu seperti halnya dengan kebebasan dalam menyampaikan pendapat di era demokrasi melalui berbagai media (cetak dan elektronik). Manfaat Positif kebebasan berekspresi via internet di Indonesia sudah banyak dijelaskan di film dokumenter Linimas(s)a dan ebook pedoman berekspresi online. Sudah diungkapkan bagaimana pengaruh social media terhadap dukungan Ibu Prita, Bibit-Chandra, Jalin Merapi, kegiatan-kegiatan pelatihan oleh komunitas Blogger Bengawan (Solo), hingga cerita tukang becak online asal Jogja yang bernama Harry Van Jogja. Tapi perlu diketahui dan sudah menjadi rahasia umum bahwa Manfaat Negatif dari kebebasan berekspresi internet juga tetap ada. Misalnya kasus penyebaran video porno artis beberapa waktu lalu, kasus saling hina di twitter, hingga blog SARA. Yang jelas setiap pendapat dalam berekspresi itu punya tanggung jawab. Seperti halnya setiap pisau itu bermata dua. Setiap teknologi sesungguhnya bersifat netral, yang pada awalnya dibuat dengan tujuan untuk memudahkan hidup manusia. Tapi manusia sendiri yang memanfaatkan niat dan kesempatan sehingga menjadi kegiatan atau sesuatu yang bernilai negatif.

Lalu bagaimana dengan Kondisi Kebebasan Berekspresi via internet di Indonesia dewasa ini? Menurut saya, ada 2 hal yang patut digarisbawahi. Pertama mengenai Definisi, kedua mengenai Etika. Seperti telah saya katakan jika kebebasan berekspresi via internet itu bermata dua. Hitam dan putih. Sudah seharusnya yang putih lebih baik, tapi definisi untuk menjadi putih belum begitu jelas di Indonesia. Belum begitu jelas dibuat peraturannya dan belum begitu jelas dipahami. Saya pikir kasus RPM konten Kominfo dan UU ITE sudah bisa menjelaskan hal ini, di samping contoh lainnya. Kebelumjelasan itu menghasilkan pula pemahaman yang belum cukup mengenai etika. Etika berekspresi via internet. Apa yang seharusnya harus dilakukan dan bukan hanya apa yang seharusnya bisa dilakukan.

Sudah seharusnya berekspresi via internet bukan hanya demi latah teknologi dan narsis belaka. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh pakar pemasaran Indonesia Hermawan Kartajaya, masih banyak anak muda Indonesia yang ”kesepian” lalu menggunakan Social Media untuk sekadar mengobatinya. Pernah saya kutip di posting blog yang ini. Jadi, marilah kebebasan berekspresi via internet di Indonesia didorong untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak hal. Bagi yang punya usaha, manfaatkan untuk jejaring pemasaran. Bagi yang masih kuliah, dipergunakan untuk memperkaya referensi, dan seterusnya. Komisi 8 DPR RI yang berkata bahwa studi banding via internet dengan video conference itu susah (padahal punya staf ahli dan mahasiswa Indonesia di Australia sudah menawarkan untuk membantu), sebetulnya juga menggambarkan jika pemanfaatan berekspresi internet di Indonesia masih gitu-gitu aja dipahami kaum elit. Nilai lebih yang seharusnya dihasilkan atau added value internet belum sepenuhnya dihasilkan.

Jika demikian, Bagaimana Sebaiknya pengguna internet di Indonesia mengatur dirinya sendiri demi menghasilkan harapan itu semua? Pertama, tanyakan saja pada hati nurani masing-masing, apa tujuannya menggunakan internet. Karena hati nurani sendiri yang paling tau jawabannya. Terutama yang sudah mahir berselancar. Punya tujuan apa menggunakan internet, mau sekadar menyapa teman lama atau untuk apa. Sebaiknya jangan hanya punya tujuan membuang waktu sia-sia. Internet sudah menjadi seperti dunia ketiga. Internet seperti halnya dunia nyata. Kebanyakan penyimpangan seperti maraknya penggunaan internet untuk pornografi dan penipuan karena mereka tidak menempatkan dunia internet seperti halnya dunia nyata. Berteman di social media ya seperti halnya berteman di dunia nyata. Batasan apa yang bisa dibagikan juga pada dasarnya sama. Jika sekiranya ada informasi yang tidak patut dibagikan demi keamanan atau privasi ya silakan saja. Internet bukan tempat untuk penyimpangan atau mumpung jika di kehidupan nyata tidak ketauan dilakukan dan tidak bisa dilakukan. Jika masih saja ada penipuan macam kasus Rahmat-Icha yang memalsukan jenis kelamin ketika kenalan di Facebook lalu menikah itu atau situs dewasa yang dikelola demi sengaja menyebarkan koten seronok, berarti pada dasarnya di kehidupan nyata saja sudah bermasalah.

Tips bagi orang tua yang mempunyai anak-anak remaja, agar tak sungkan belajar internet dan meletakkan komputer di ruang keluarga agar bisa ikut memantau. Lalu sebaiknya akses internet di-filter sedemikian rupa hingga layak untuk anak-anak. Barangkali mata pelajaran etika berekspresi via internet juga layak dijadikan sisipan mata pelajaran di sekolah.

Buat penguasa dan pengusaha, semoga kerjasama yang dilakukan dalam menghasilkan jalan untuk akses internet di Indonesia senantiasa lancar dan perbaikan merata di semua wilayah serta agar bisa dipermurah. Tak lupa kualitas juga utama. Dengan potensi jumlah pengguna internet seperti disebutkan di film dokumenter linimas(s)a itu, maka kekuatan Internet di Indonesia sebagai ”dunia ketiga” untuk menuju perubahan sangatlah mungkin. Bukan mimpi belaka. Jadi hal-hal keliru yang seharusnya bisa dilakukan dapat didorong perubahannya melalui dukungan pengguna internet. Barangkali semacam penyelesaian Kasus Lumpur Lapindo Sidoarjo yang telah berulang tahun kelima di tahun ini, dapat kita dorong penyelesaiannya melalui penggalangan dukungan via internet dengan lebih gencar dan masif. Karena selama ini sepertinya belum mengarah ke dukungan sepenuhnya, bisa juga karena sangat sulit menembus tembok penguasa itu. Padahal sudah banyak yang bilang kalau untuk menutup kebocoran lumpur yang disebabkan karena faktor manusia itu, seharusnya bisa diusahakan. Seperti yang pernah disinggung di acara Sentilan Sentilun beberapa waktu lalu.

Kebebasan berekspresi via internet akan dinilai secara beragam. Sesuai dengan pemahaman dan aktivitas via internet sejauh ini. Padahal di Indonesia ada ratusan juta orang. Tentu akan muncul banyak pendapat mengenai kebebasan berekspresi via internet. Tapi beberapa paragraf di atas adalah penjelasan mengenai kebebasan berekspresi via internet dalam versi menurut pendapat saya. Kesimpulan saya tetap masih memandang bahwa kebebasan berekspresi via internet di Indonesia masih berbobot sama antara Hitam dan Putih. Keduanya Masih Seimbang walaupun saya belum bisa menyajikan dalam bentuk data yang lebih aktual dan faktual. Baik kualitatif dan kuantitatif. Hanya menurut persepsi saya saja sejauh ini bergaul di dunia maya. Oleh karena itu, usul-usul dan tips yang saya sampaikan di atas semoga bisa mendorong bagian yang putih agar bisa lebih mendominasi.

Kebebasan Berekspresi Internet pada dasarnya adalah Hak setiap warga negara Indonesia. Jangan sampai blokir-memblokir seperti yang dilakukan oleh pemerintah Cina selama ini, terjadi di Indonesia. Karena menurut saya itu hanya upaya ketakutan dan kontraporduktif dalam upaya sebuah ketidakbersamaan & ketidakpercayaan antara pemerintah atau penguasa dengan warga negaranya.

Terakhir, setiap warga negara Indonesia memiliki hak untuk berekspresi via internet, akan tetapi tidak semua menyadari dan memahami bahwa pada setiap hak itu melekat kewajiban yang harus ditunaikan. Tunaikanlah untuk menyisihkan sebagian pendapatan bagi sesama (yang kurang mampu & membutuhkan, misalnya dalam bentuk zakat infak shodaqoh) dan berbagi ilmu buat yang sudah master dalam monetize blog. Tunaikanlah kewajiban membagikan hal positif buat yang NgeBlog, Facebook-an, Twitter-an, NgePlurk, dll. Dan tunaikanlah kewajiban meninggalkan komentar ketika Blogwalking :D !

Posting Yang Berkaitan :

Categories: Opini

Tags: , , , , Leave a comment

Comments Feed35 Comments

  1. Asop

    Wah, saya jadi malu, saya jarang ninggalin komentar di sini. :oops:

    [Reply]

    arif Reply:

    @Asop, yg penting ga malu2in :D

    [Reply]

  2. Mas Titus

    Ulasan mas Ahmad Arief Nurrahman yang sangat panjang ini memang bagus. Memang manusia itu pada dasarnya suka berekspresi. Hanya saja ekspresi manusia itu sangat beragam. Ketika muncul dunia baru yang bernama internet, ekspresi manusia bertambah.dan yang tidak terbiasa berkekspresi di dunia nyata menjadi sangat ekspresif ketika dihadapkan pada dunia baru ini. Etika berekspresi di internet memang perlu dikupas dan diajarkan kepada generasi muda saat ini, agar internet sehat bisa terwujud.

    [Reply]

    arif Reply:

    @Mas Titus, betul itu, bisa jadi kyk pelajaran tata krama nantinya :D

    [Reply]

  3. Ejawantahblog

    semoga kita dapat menjadikan dunia internet sebagai tempat saling menukar informasi ilmu dalam berkarya, yang membawa kehidupan yang lebih baik.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    [Reply]

    arif Reply:

    @Ejawantahblog, amin! makasih,sama :)

    [Reply]

  4. Majalah Masjid Kita

    semoga media berekspresi seperti ini tidak untuk di salah gunakan ya mas ya… di manfaatkan tuk sesuatu yang bersifat negatif.. tentunya hal tsb harus bisa kita hindari dengan sesungguhnya :(

    [Reply]

    arif Reply:

    @Majalah Masjid Kita, walopun tdk dipungkiri yg memanfaatkan negatif masih buanyak :(

    [Reply]

  5. andipeace

    disisi lain ada positif dan negatifnya dalam hal internet.
    mari semua terapkan internet sehat dan positif dalam operasional perkembangan teknologi yang sangat canggih ini.
    salam sejaterahn dan adem ayem

    [Reply]

    arif Reply:

    @andipeace, salam pula sunday morning :D

    [Reply]

  6. lyna riyanto

    Saya membacanya sampai habis Mas :) jangan khawatir..tidak membosankan..justru menarik..

    dua sisi yg ada pada internet memang patut di tanggapi serius..saya sendiri sebagai ortu dg anak pengguna aktif internet sangat khawatir. Walaupun sudah diperhatikan dan diberi pengertian ttg penggunaan internet yg bijak.

    kampanye internet sehat perlu di gaungkan lagi, dan harus didukung oleh semua pihak :0

    [Reply]

    arif Reply:

    @lyna riyanto, makasih mbak :D . klo gitu baca ebook nya dan pilm dokumenter linims(s)a nya juga harus sampai usai mbak. disana banyak pula ilmu panduan ortu utk mengawasi anak berinternet :D

    [Reply]

  7. sky

    ya betul juga…

    yg namanya internet sehat….pasti akan disadari oleh masyarkat yg berpikir logis….secara otomatis, semua konten yg membahayakan akan tereliminasi secara alamiah

    [Reply]

    arif Reply:

    @sky, kesadaran itu yg perlu ditumbuhkan dgn upaya edukasi :D

    [Reply]

  8. sichandra

    nah dengan internet seharusnya kehidupan lebih baik , krna semua informasi dan pengetahuan dapat dengan cepat kita ketahui. dan yang paling penting , kebebesan internet untuk melakukan hal yang positif bukan negatif :D

    [Reply]

    arif Reply:

    @sichandra, lebih baik memang yg positif

    [Reply]

  9. Ahong

    Berekspresi sih boleh, asal tidak mengandung hal-hal negatif… :)

    [Reply]

    arif Reply:

    @Ahong, artinya kebebasan berekspresi juga dilindungi, seperti halnya kebebasan menyuarakan pendapat :) .

    [Reply]

  10. FajaR

    Dunia internet tidak selamanya buruk banyak hal positif yang ada di dalmnya semoga dunia internet akan lebih menggugah kita untuk saling bertukar informasi :D

    [Reply]

    arif Reply:

    @FajaR, karna dunia internet sangat komplek dan terbuka luas, memang kemungkinan utk digunakan sbg hal negatif itu masih sangat terbuka, apalagi di Indonesia belum semuanya memahami. masih ada faktor latah teknologi, happines economic dll :D

    [Reply]

  11. Mari Berkomunitas Di Faceblog

    KEKBEBSAN B EREKPRESI DI INTERNET JANGAN DIBASTASI…
    INI UDAH JAMAN DEMOKRASI…..

    [Reply]

    arif Reply:

    @Mari Berkomunitas Di Faceblog, dibatasi itu memang bisa melanggar hak. tapi ada kewajiban etika juga di dalamnya, dan itu msh dlm tahap pembelajaran dan pengembangan budaya di indonesia.

    [Reply]

  12. attayaya-pepatah

    mari kita manfaatkan internet untuk hal yang baik

    [Reply]

    bukuinfo Reply:

    @attayaya-pepatah, meskipun hal-hal baik di internet juga masih acapkali diikuti hal negatif, tapi tidak boleh berhenti dan menyerah :D

    [Reply]

  13. edwin

    kita memang harus berinet sehat walau susah emang…

    [Reply]

  14. Edwin

    kebebasan ber inet emang wajib buat kita

    [Reply]

  15. Arie Iswadi

    Memang kompleks ya mas jagad internet ini… semoga sukses :)

    [Reply]

  16. Jumlah Blogger Indonesia « nurrahman's blog

    [...] efek negatifnya jikalau salah urus. Bisa memperbanyak pornografi, penipuan, pembajakan, represif kebebasan berekspresi via internet dan [...]

  17. giewahyudi

    Wah gimana ya, jadi malu saya, harus belajar banyak soal etika.. :(

    [Reply]

    arif Reply:

    @giewahyudi, klo gitu belajar bareng aja mas :)

    [Reply]

  18. emfajar

    kontrol dan edukasi dari orang tua juga sangat penting dalam mengawasi perilaku berinternet anak sejak dini

    [Reply]

    arif Reply:

    @emfajar, yoa, oleh karna itu ortu juga perlu melek IT :)

    [Reply]

  19. toni

    hitam dan putih itu bergantung kemampuan dan pemahamannya. bagi yang sudah merasa bisa melihat dan mau mengembangkan sisi putihnya, jangan lupa untuk berbagi dengan seksama. karna internet itu akan luas sekali kemanfaatannya. setiap orang bisa bebas berekspresi sementara si pembuat aturan belum tentu bisa mengimbanginya karena biasanya justru enggan ikut belajar teknologi internet

    [Reply]

    arif Reply:

    @toni, yes mas toni. lama sampean takberkunjung :D . karna memang para pembuat kebijakan alias peraturan di negri ini sedang banyak “diuji” pada masa2 ini, apakah hanya sekadar elit sbg gelar atau memang bisa menghasilkan kebijkasanaan khususnya berkaitan dgn kebebasan berekspresi internet di indonesia

    [Reply]

  20. Tips Memilih Modem Internet | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

    [...] hanya sekadar untuk mengikuti perkembangan informasi macam aktif di social media maka rata-rata biaya per bulan bisa hanya sampai puluhan ribu rupiah. Sedangkan untuk kebutuhan [...]

Leave a comment

Anti-Spam Quiz:

Feed

http://arifnurrahman.com / Kebebasan Berekspresi Internet