Source Code Review

Film Source Code menceritakan seorang tentara AS yang sedang ikut dalam misi di Afghanistan lalu tiba-tiba mendapat tugas khusus untuk mencegah aksi terorisme peledakan bom di sebuah kota. Tentara AS itu adalah seorang pilot helikopter yang bernama Colter Stevens; diperankan dengan baik oleh aktor Jake Gyllenhaal. Sebetulnya, bukan beralih tugas tiba-tiba. Tapi lebih tepatnya sang prajurit adalah korban perang yang hampir mati. Tubuhnya rusak tinggal setengah badan tapi otaknya masih berfungsi. Walaupun demikian, kepada keluarga dan sanak saudara, sang prajurit tersebut dikabarkan telah meninggal secara terhormat dalam perang. Lalu bagaimana mungkin dalam kondisi tubuh tak sempurna mirip orang koma bisa mencegah upaya terorisme, peledakan bom di sebuah kereta api?

Ini yang menarik. Karena rupanya yang digunakan adalah memori otak. Semacam untuk membaca memori salah satu korban dari ledakan kereta api. Prinsip kerjanya mirip seperti perangkat elektronik penyimpan tenaga sementara. Ketika piranti berhenti bekerja maka ada memori terakhir yang tersisa hanya beberapa menit. Itulah yang digunakan untuk mencari si pelaku bom dalam ingatan salah satu korban ledakan, yang masih dalam kondisi baik dan sesuai dengan anatomi (atau semacamnya) dari si prajurit tersebut. Ya, ini film fiksi. Tapi bukan film fiksi kembali ke masa lalu. Tapi kalau menurut saya seperti membaca memori otak yang tersisa dari kejadian terkahir yang dialaminya dalam dunia buatan / dunia maya yang tercipta berkat teknologi canggih. Yang di film tersebut dinamkan Source Code. Hasil rekayasa teknologi dari seorang Dr. Rutledge, diperankan oleh Jeffrey Wright.

Gambar di samping adalah kondisi Colter Stevens. Mengingatkan saya pada film RoboCop, dimana dalam film yang pernah laris jauh sebelumnya itu dibuat rekayasa teknologi artificial intellegency berbentuk robot. Colter Stevens harus mengulang beberapa kali dalam membaca memori otak dengan cara mengalaminya langsung. Sehingga seolah-olah dalam dimensi dunia entah dimana, berperan atau mengalami langsung menjadi seorang guru sejarah (bernama Sean Fentress). Yang sedang dalam perjalanan menggunakan kereta, duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik bernama Christina Warren. Diperankan oleh Michelle Monaghan. Dan pada akhirnya Colter jatuh cinta kepadanya :D.

Akhirnya Colter memang berhasil menemukan si pelaku yang menaruh bom di kereta, dan rupanya si pelaku mempunyai rencana yang lebih jahat yakni meledakkan kota. Dengan berakhirnya tugas dan suksesnya mencegah seluruh kota meledak, maka seorang petugas atau operator Source Code yang bernama Goodwin hendak menonaktifkan Colter karena kasian. Dengan kata lain membunuhnya. Tapi ditolak oleh Dr. Rutledge. Ketegangan terjadi, namun pada akhirnya mesin Source Code untuk Colter Stevens mati. Apa yang terjadi? Ini juga yang mengejutkan dan lepas dari tebakan saya. Rupanya kondisi saat itu berubah total. Kota tetap tidak jadi meledak, aman. Dan seperti kembali ke masa lalu seolah seperti tidak ada peristiwa pengeboman yang dimaksud. Terbukti dengan kiriman email oleh Colter Stevens dalam dimensi ruang dan waktu Source Code yang mengatakan kurang lebih : “teknologi baru untuk menyelamatkan dunia telah terwujud, saya siap menerima tugas baru”. Ya, seperti dejavu. Mesin Source Code dan Colter Stevens tetap ada dan “hidup” seperti sedia kala. Namun entah Colter Steven ketika “berperan” menjadi Sean Fentress lalu bersama menjadi sepasang kekasih di dimensi ruang dan waktu yang mana :)

***

Sebetulnya sudah lama ingin menuliskan sinopsis atau review film ini, tapi akhirnya baru kesampaian sore ini :D! Adegan dan ceritanya bagus, apalagi buat penggemar film ber-genre sci-fi.





Posting Yang Berkaitan :

5 thoughts on “Source Code Review”

  1. saya koq belum tahu filmnya ya mas??? coba ntar dicari ahhh… kayak cerita robocop tetapi akhirnya kembali seperti semula… Mimpi aja kali ya mas???

    [Reply]

    arif Reply:

    @Blog Keluarga Keuangan, bukan mimpi kok :). ini film dah rilis sekitar 1-2 bulan lalu…

    [Reply]

  2. wew. ini baru aja selesai donlot.
    thanks review gratisnya om..

    [Reply]

    arif Reply:

    @willy, sama2. karna ane cukup terkesan ama pilmnya. seperti “berfantasi” mengenai teknologi masa mendatang. dan siapa tau ada hal yg bisa benar2 tercipta kelak. who knows :D

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anti-Spam Quiz: