Pendampingan UKM untuk Mantan BMI
May 31st, 2012
Beberapa tahun silam ketika Kerja Praktek di sebuah Kilang Minyak lepas pantai di Balikpapan milik salah satu perusahaan asing, saya memperoleh sebuah cerita dari seorang rekan kerja yang merupakan mantan Tenaga Kerja Indonesia / TKI atau Buruh Migran Indonesia (selanjutnya saya singkat dengan BMI). Rekan saya itu dulu pernah bekerja di Malaysia sebagai BMI selama beberapa tahun. Dia bersama BMI yang lain pernah masuk ke negara tetangga baik secara legal maupun ilegal. Salah satunya pernah naik kapal di malam hari tanpa menggunakan lampu atau penerangan dengan harapan lolos dari penjagaan petugas dan akhirnya berhasil.
Pengalaman beberapa tahun bekerja sebagai BMI itu rupanya berakhir dengan kerinduan kepada keluarga dan saudara sehingga harus memilih pulang ke tanah air. Dan belum bisa dikatakan cukup berhasil sebab toh kembali lagi bekerja sebagai buruh kontrak di berbagai perusahaan, yang mana pada saat itu berada dalam satu tim bersama saya menyelesaikan pekerjaan Fire and Gas Detection System.
Kisah rekan saya di atas merupakan hal yang menurut saya cukup lumrah. Dimana masih cukup banyak saudara-saudara kita yang merupakan mantan BMI akan kembali lagi bekerja sebagai buruh setelah pulang ke tanah air dan memutuskan untuk tidak menjadi BMI lagi. Atau dengan kata lain belum cukup berhasil menaikkan kesejahteraan hidup. Namun bukan berarti pula bahwa semua mantan BMI mempunyai nasib seperti itu. Ada pula kisah sukses mantan BMI yang sudah sering kita dengar baik melalui media cetak, elektronik, internet, maupun mungkin dialami langsung oleh tetangga atau saudara kita. Seperti misalnya kisah mantan BMI yang pernah bekerja di Korea Selatan yakni Imam Nahrawi 1). Bekal pengalaman bekerja sebagai BMI dan semangat juang untuk terus sukses telah mengantarkannya menjadi pengusaha sukses di Lampung saat ini. Bahkan karena dedikasinya, ia membangun pasar yang ditujukan bagi para mantan BMI untuk terus meraih sukses. Ada pula kisah lain, misalnya seorang mantan BMI asal Sukabumi bernama Edi Suryadi yang pernah bekerja di Arab Saudi dan kini menjadi pengusaha mobil 2).
Semangat sukses untuk memulai usaha sehingga akhirnya menjadi wirausahawan atau pengusaha sukses memang tak pandang bulu. Semua orang punya peluang sama untuk sukses tanpa membeda-bedakan latar belakang. Kesuksesan semua pengusaha besar juga tak ada yang diraih instan. Semua penuh kerja keras dan dimulai dari usaha kecil atau UKM (Usaha Kecil Menengah). Begitu pula dengan kisah sukses mantan BMI. Pilihan wirausaha bagi mantan BMI adalah selaras dengan statement Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Indonesia butuh 4 juta wirausahawan 3). Dan hingga saat ini jumlah tersebut masih belum terpenuhi.
Mantan BMI Sebaiknya Wirausaha
Kondisi ekonomi Indonesia pada saat ini khususnya berkaitan dengan lapangan pekerjaan memang membuat pilihan menjadi BMI harus ditempuh oleh sebagian masyarakat. BMI telah memberikan sumbangsih devisa bagi negara 4). Tetapi dengan kebutuhan pengusaha dan berbagai permasalahan yang kerap menimpa BMI berulang-ulang baik di dalam maupun luar negri, maka pilihan tersebut sudah selayaknya perlu dipertimbangkan ulang dan diberikan solusi lain yang lebih baik. Solusi jangka panjang tentu saja meniadakan BMI dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya di dalam negri.
Tapi kita juga harus realistis bahwa tercapainya kondisi lapangan pekerjaan yang dapat memenuhi semua angkatan kerja adalah butuh waktu dan merupakan hasil usaha semua pihak. Gagasan padat karya dengan investasi bernilai “wah” tentu juga butuh waktu dan banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Sehingga diperlukan gagasan wirausaha bagi mantan BMI. Gagasan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri atau wirausaha bagi mantan BMI dan bagi pihak keluarga BMI. Gagasan wirausaha tersebut sudah banyak dimulai dan tentu saja harus ditingkatkan sebagai wujud kepedulian untuk meningkatkan jumlah pengusaha dan sebagai salah satu cara agar mantan BMI bisa lebih sukses menempuh jalur menjadi pengusaha. Sekaligus dengan harapan menekan jumlah BMI 5). Perlu didukung dan dilakukan semua pihak terkait.
Pendampingan UKM untuk Mantan BMI
Gagasan wirausaha bagi mantan BMI adalah berupa pendampingan bagi pelaku usaha baik yang sudah berjalan maupun baru akan dimulai. Atau dengan kata lain berupa UKM. Sedangkan maksud dari Program Pendampingan yakni memberikan pembinaan yang menyeluruh dan berkesinambungan, meliputi 4 aspek inti dalam manajemen bisnis; operasional, keuangan, sumber daya manusia, dan pemasaran. Bantuan pembiayaan yang diberikan dengan skema tertentu, diadakan pelatihan operasional, peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), pengelolaan keuangan hingga akhirnya bisa memiliki kemampuan memasarkan produk / jasa dengan baik. Jadi tidak hanya sekadar pelatihan teknis saja, bantuan pemasaran produk / jasa saja, dan semacamnya.

Pelatihan Komputer, Menjahit, dan Handycraft (www.buruhmigran.or.id)
Memang beberapa contoh pelatihan teknis / operasional bagi para mantan BMI atau keluarga BMI sudah banyak dilakukan. Misalnya pelatihan kerajinan tangan 6), handycraft 7), dan komputer 8 ), yang mana melibatkan beberapa pihak seperti Yayasan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Kampus, Perusahaan, hingga Dinas atau Instansi Pemerintah terkait. Hal tersebut tentu saja baik dan perlu terus ditingkatkan. Namun, pendampingan UKM juga perlu mendapat perhatian dan diupayakan lebih utama. Walaupun tentu membutuhkan upaya yang lebih besar dan memakan waktu proses yang lebih lama.
Secara garis besar ditinjau dari aspek peserta Program Pendampingan, ada 2 jenis gagasan berwirausaha bagi mantan BMI. Pertama, program pendampingan yang telah dilakukan oleh beberapa Sekolah Entrepreneur 9) seperti Entrepreneur University (EU), Young Entrepreneur Academy (YEA) Indonesia, dan Rhenald Kasali School for Entrepreneurs (RKSE). Peserta UKM yang mengikuti program tersebut harus mengikuti syarat tertentu seperti memberikan modal awal. Pelatihan intensif dilakukan hingga tujuan akhir program sukses menjadi pengusaha.
Kedua, model pendampingan bagi UKM yang bisa diikuti secara cuma-cuma. Misalnya yang telah dilakukan oleh pihak LSM dan Yayasan seperti Program Start & Improve Your Business (SIYB) 10), program pembinaan atau kemitraan UKM oleh CSR (Corporate Social Responsibility) Perusahaan 11), program pemberdayaan masyarakat oleh Lembaga Keuangan dan Sosial seperti Lazis (Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh) 12), hingga yang melibatkan pemerintah 13). Dalam sebuah Program Pendampingan, setidaknya ada beberapa faktor atau aspek yang membedakan satu sama lain. Antara lain model pembiayaan, jumlah dan jenis peserta UKM, dan waktu. Skema pembiayaan dapat berwujud model dana bergulir, kredit ringan, hingga adopsi model Grameen Bank. Sedangkan jumlah dan jenis peserta UKM akan mempengaruhi faktor waktu lama pendampingan berlangsung. Setidaknya minimal 6 bulan waktu yang dibutuhkan, keterangan lebih detail mengenai masing-masing contoh program dapat diliat di link yang tersedia di referensi bawah.
Strategi Jangka Panjang
Program Pendampingan UKM jenis kedua merupakan konsep yang menurut saya lebih pas diterapkan bagi mantan BMI. Dan berdasarkan beberapa contoh Program Pendampingan seperti yang saya sebutkan di atas, maka perlu ditingkatkan kuantitas dan kuantitasnya khususnya yang fokus bagi mantan BMI. Mengingat daerah kantung BMI cukup banyak 14). Sehingga tentu membutuhkan waktu yang cukup panjang dan keterlibatan banyak pihak untuk melihat hasil nyata dari Program Pendampingan. Apalagi jika dikaitkan dengan tujuan utama yakni untuk meningkatkan jumlah pengusaha, meningkatkan kesejahteraan mantan BMI dan menekan jumlah BMI.

Program yang berkesinambungan 15) untuk jangka panjang akan berlangsung dengan baik apabila koordinasi dan pembagian tugas dilakukan dengan tepat. Di era otonomi daerah seperti saat ini, Pemerintah Daerah setempat mempunyai kekuasaan yang bisa menjangkau banyak aspek untuk mendorong terlaksananya Program Pendampingan bagi mantan BMI di daerah kantung BMI. Di samping diperlukannya komitmen dan keberanian tinggi dari faktor kepemimpinan, disertai koordinasi yang baik kepada pihak Kemenakertrans, BNP2TKI, dan Kemenkop UKM. Suntikan dana bisa diperoleh dari CSR Perusahaan Besar serta Lembaga Keuangan dan Sosial, dan dana pemerintah. Sedangkan keterlibatan pihak Kampus, LSM atau Yayasan yang peduli terhadap BMI juga tetap diperlukan dalam pelaksanaan.
Seperti terlihat pada gambar di atas, konsep Program Pendampingan jelas berupa jangka panjang atau dalam termin tahunan. Tetapi jika bisa diterapkan dan dibuat rumusan hingga detail dengan daerah tertentu sebagai Pilot Project, maka bisa diukur parameter riil berupa jumlah UKM baru yang bisa dihasilkan dengan terciptanya lapangan kerja baru hingga penurunan jumlah BMI.
Langkah sosialisasi dan edukasi mengenai wirausaha diperlukan sebagai langkah awal. Sebab bukan perkara mudah untuk menumbuhkan kesadaran dan semangat dalam memilih wirausaha bagi mantan BMI. Paradigma atau cara berpikir bahwa hasil bekerja selama menjadi BMI agar bisa dipergunakan sedemikian rupa hingga memilih wirausaha tidaklah dimiliki oleh semua BMI. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab bersama dalam memberikan edukasi semacam itu baik oleh pihak pemerintah, tokoh masyarakat, ulama, maupun para pemuda.
Potensi masing-masing daerah juga harus mendapat perhatian dalam membuat detail rencana Program Pendampingan. Semisal untuk daerah kantung BMI dengan potensi perkebunan maka jenis UKM yang dikembangkan dapat disesuaikan. Dan terakhir dari sisi pemasaran, upaya mendorong membangun jaringan pemasaran di era global dengan kemajuan teknologi informasi dunia maya merupakan hal yang perlu diberikan.
***
Semoga harapan-harapan di atas bisa segera ditindaklanjuti dan diwujudkan bersama sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat mantan BMI yang lebih baik
.
Referensi :
Gambar atas : buruhmigran.or.id
1) http://kickandy.com/theshow/1/1/2018/read/10/35
2) http://www.bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/6082-kisah-mantan-tki-yang-sukses-jadi-pengusaha-mobil.html
3)http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/29/18332038/
Indonesia.Butuh.4.Juta.Wirausaha
4) http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/berita/845-tki-sumbang-devisa-negara-terbesar-kedua-setelah-migas-.html
5) http://buruhmigran.or.id/2010/11/28/tekan-pengiriman-tki-tawarkan-wirausaha/
6) http://buruhmigran.or.id/2011/02/01/komunitas-buruh-migran-gelar-pelatihan-kerajinan-tangan/
7) http://buruhmigran.or.id/2011/12/28/mutiara-handycraft-siap-pasarkan-produk-keset-mantan-bmi/
8 ) http://buruhmigran.or.id/2010/07/05/asean-foundation-dukung-pengembangan-ekonomi-mikro-buruh-migran/
9) http://nurrahmanarif.wordpress.com/2012/01/27/sekolah-entrepreneur/
10) http://buruhmigran.or.id/2010/11/28/siyb-mencetak-enterpreuner-tangguh/
11) http://www.surabayakita.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4234:alfamart-berikan-pelatihan-dan-bantuan-modal-pelaku-ukm&catid=67:ukm&Itemid=209
12) http://nurrahmanarif.wordpress.com/2010/08/31/microfinance-syariah-berbasis-masyarakat/
13) http://buruhmigran.or.id/2011/12/05/pelatihan-bididaya-lele-untuk-calon-tki/
14) http://finance.detik.com/read/2011/07/06/112228/1675671/4/38-daerah-kantong-tki-dapat-pengawasan-khusus
15) http://buruhmigran.or.id/2012/01/24/mantan-bmi-perlu-pendampingan-berkesinambungan/
Categories: Opini





nice post…salam kenal slalu yaaa…:)
[Reply]
Mantap sekali Kerja Prakteknya Gan, agan banyak dapat pengalaman… (y)
[Reply]
arif Reply:
June 2nd, 2012 at 10:29 am
@Kormel Simanjuntak, mumpung ada kesempatan dan peluang, memilih Kerja Praktek kalau bisa yang bagus sekalian biar punya banyak pengalaman dan cerita menarik
[Reply]
iya sebaiknya memang para BMI itu harus berwirusaha… selain kita secara ekonomi butuh banyak pengusaha untuk menciptakan lapangan kerja..
dilain pihak cara yang paling ampuh untuk para BMI agar kehidupan mereka tidak tergantung di luar negeri terus.
panjang tapi postingnya bagus
[Reply]
arif Reply:
June 1st, 2012 at 7:33 pm
@applausr, terimakasih, maaf kalau terlalu panjang, sudah berusaha beberapa kali dipersingkat tapi rupanya ya mentok segitu jadinya
. Mari turut serta menyukseskan wirausaha bagi mantan BMI!
[Reply]
memang wirausaha paling cocok..
[Reply]
betul tuh..
[Reply]
Banyak juga buruh migran yang sekembalinya ke tanah air, ingin buka usaha tapi tertipu dan akhirnya ingin jadi buruh migran lagi
padahal belum tentu seberuntung sebelumnya, tdk jarang malah lebih susah (pengalaman para murid)
Bagus sekali memang kalau para BMI sekembalinya ke tanah air dibekali keterampilan untuk mandiri dan cerdas dalam memilih peluang usaha
[Reply]
arif Reply:
June 2nd, 2012 at 10:27 am
@diahwidhi, wah kasus penipuan memang bisa menimpa siapa saja Mbak. Pembekalan ketrampilan dalam opini di atas, disarankan untuk menyeluruh agar tidak hanya bisa membuat produk tapi juga mengelola keuangan dan bisa memasarkan. Memang butuh waktu dan jangka panjang, namanya juga usaha untuk sebuah tujuan besar yang baik
[Reply]
Jadi malu, Mas, karena saya sendiri sampai sekarang belum berwirausaha.
Eh, ngeblog itu masuk kategori wirausaha nggak sih?
[Reply]
arif Reply:
June 4th, 2012 at 9:35 am
@isnuansa, termasuk, apalagi buat blogger pro seperti Mbak Isnuansa
[Reply]
mereka para penghasil devisa, sudah sepantasnya mendapat pendampingan lebih
[Reply]
arif Reply:
June 7th, 2012 at 10:16 am
@agromina, perhatian lebih dari para pemimpin yang berani dan punya integritas sangat perlu
[Reply]
wah itu solusi buat UKM non modal ya gan? Bagus sih, tapi jangan lupa kerjasama juga dengan menakertrans, menkop ukm dan institusi dana bergulis ukm milik pemerintah
[Reply]
arif Reply:
June 8th, 2012 at 2:06 pm
@hari, betul, sesuai dengan segmen bagi para mantan BMI. program serupa telah ada namun belum spesifik misalnya bagi mantan BMI dan perlu ditingkatkan. Mulai dengan sosialisasi atau edukasi dan keberanian para pemimpin untuk bertindak
[Reply]
saya belum melihat keseriusan konsep di atas pada program kerja pemerintah daerah setempat maupun pusat. Apalagi bantuan non-modal UKM belum cukup lazim, sistem dana bergulir baru beberapa tahun terakhir rilis di Indonesia
[Reply]
arif Reply:
June 18th, 2012 at 7:27 am
@diesel, nampaknya program mewujudkan jutaan wirausaha di Indonesia memang masih terkendala budaya dan kepemimpinan serta butuh proses mas
[Reply]
perhatian pemerintah terhadap nasib mantan TKI yang kurang sukses masih kurang
[Reply]
arif Reply:
July 4th, 2012 at 7:24 pm
@ela, adalah kita bersama sebagai masyarakat dan banyak pihak perlu memberikan perhatian lebih lagi biar tidak kekurangan
[Reply]